Sejarah Sumedang: Dari Kerajaan Sumedang Larang hingga Mahkota BinokasihSejarah Sumedang bermula dari Kerajaan Sumedang Larang hingga menerima Mahkota Binokasih sebagai simbol legitimasi Sunda.

Asal Usul Sumedang

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang berakar dari Kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan ini berdiri pada 721 Masehi oleh Batara Tungtang Buana, dikenal sebagai Prabu Tajimalela. Awalnya, Sumedang Larang adalah kerajaan bawahan dari Kerajaan Galuh, pusat ilmu pengetahuan yang berperan penting dalam peradaban Sunda.

Nama Sumedang Larang berasal dari frasa Insun Medal dan Insun Madangan yang berarti “saya lahir dan memberi penerangan”, sedangkan “Larang” melambangkan nilai tak ternilai, bukan materi. Filosofi ini diyakini menjaga keamanan dan ketentraman wilayah Sumedang hingga kini.

Kepemimpinan dan Peran Perempuan

Kepemimpinan Kerajaan Sumedang Larang dimulai dari Prabu Tajimalela dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Sejarah mencatat peran besar pemimpin perempuan, seperti Nyi Mas Patuakan dan Ratu Pucuk Umun. Pada masa Ratu Pucuk Umun, penyebaran agama Islam mulai berkembang di wilayah ini.

Mahkota Binokasih dan Perubahan Status

Pangeran Angkawijaya, atau Prabu Geusan Ulun, menjadi raja penting dalam sejarah Sumedang. Pada 22 April 1578, ia menerima Mahkota Kerajaan Sunda Binokasih Sanghyang Pakai dari Kerajaan Pajajaran. Penyerahan mahkota ini mengubah status Sumedang Larang dari kerajaan bawahan menjadi kerajaan induk, dengan wilayah meluas mencakup Priangan dan sebagian Pajajaran, kecuali Kesultanan Cirebon dan Banten.

Bukti Sejarah

Peristiwa penyerahan mahkota tercatat dalam naskah kuno Waruga Jagat. Tanggal 22 April kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Sumedang, yang pada 2025 telah memasuki peringatan ke-447.

Keistimewaan Sumedang

Selain sejarahnya, Sumedang dikenal karena keindahan alamnya. Penulis Belanda Wijnand Kerkhoff pada 1939 menerbitkan buku Sumedang Het Paradijs van Java, yang menggambarkan Sumedang sebagai “surganya Jawa”. Lanskap berbukit, udara sejuk, dan nilai-nilai budaya yang kental menjadi daya tariknya.

Pusat Budaya Sunda

Pada 2009, Sumedang resmi ditetapkan sebagai Sumedang Puser Budaya Sunda (SPBS) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penetapan ini berdasar pada nilai sejarah dan keberadaan Mahkota Binokasih, yang menjadi simbol legitimasi budaya Sunda.

Baca juga: Sejarah Tempura: Kuliner Jepang yang Ternyata Berasal dari Portugal