Tradisi Lentera Udara di Shifen
Shifen Old Street, yang terletak di Distrik Pingxi, New Taipei, Taiwan, terkenal dengan tradisi lentera udara. Kawasan wisata ini ramai dikunjungi turis yang ingin menulis harapan di lentera kertas, lalu menerbangkannya ke langit. Lentera tersebut menjadi daya tarik utama Shifen, selain suasana jalan kecil dengan toko-toko tradisional dan rel kereta yang melintas di tengah kawasan.
Lentera yang diterbangkan biasanya ditulisi doa dan pesan pada empat sisinya. Setelah itu, pemilik toko membantu menyalakan api di bagian bawah lentera, membuatnya terbang tinggi hingga akhirnya jatuh ketika udara panas habis.
Asal Usul Lentera Udara
Tradisi lentera udara memiliki sejarah panjang di Pingxi. Sekitar tahun 1800-an, masyarakat setempat kerap menghadapi serangan bandit. Untuk memberi tanda aman kepada warga yang bersembunyi di pegunungan, penduduk menerbangkan lentera udara.
Selain isyarat keamanan, lentera juga digunakan sebagai media doa. Masyarakat menuliskan harapan tentang rezeki, kesehatan, dan keturunan sebelum menerbangkannya.
Penggunaan lentera udara sendiri diperkirakan sudah ada sejak zaman Zhuge Liang, ahli strategi militer China pada abad ke-3 SM. Kala itu, lentera dipakai sebagai tanda bahaya saat pasukan terkepung. Dari China, tradisi ini berkembang dan dibawa ke Taiwan oleh leluhur masyarakat Fujian, yang kini melestarikan festival lentera di Shifen.
Dari Tradisi ke Wisata Budaya
Kini, lentera udara menjadi sumber penghidupan warga Shifen. Walau festival besar biasanya digelar setiap Februari, wisatawan tetap antusias mencoba menerbangkan lentera sepanjang tahun.
Harga lentera bervariasi, mulai dari NTD 150–250 untuk ukuran kecil hingga NTD 250–350 untuk ukuran besar. Pemilik toko biasanya membantu turis menyalakan dan memotret momen penerbangan, sering kali dengan candaan atau trik yang membuat suasana semakin meriah.
Setiap hari, puluhan hingga ratusan lentera bisa terjual, bahkan lebih dari 500 saat akhir pekan atau musim liburan. Selain lentera, wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh berupa gantungan tas berbentuk lentera dengan kaligrafi harapan seperti “rezeki lancar” atau “makmur setiap tahun”.
Kritik dan Upaya Ramah Lingkungan
Popularitas tradisi ini tidak lepas dari kritik soal dampak lingkungan. Lentera yang jatuh kerap menimbulkan sampah di pepohonan, aliran sungai, maupun atap rumah warga.
Sebagai solusi, pedagang mulai menggunakan bambu untuk kerangka serta kertas minyak yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah setempat juga mendukung program pembersihan dengan memberikan insentif bagi warga yang mengumpulkan sisa lentera untuk didaur ulang.
Lentera Udara, Simbol Harapan
Bagi masyarakat Shifen, lentera udara bukan sekadar atraksi wisata. Tradisi ini melambangkan harapan yang dikirimkan ke langit, sebuah warisan budaya yang terus dijaga. Kini, lentera udara Shifen menjadi simbol harmonisasi antara sejarah, spiritualitas, dan penghidupan ekonomi warga lokal.
Baca juga: Sejarah dan Resep Sate Padang: Kuliner Legendaris Sumatera Barat

