Harga Emas Global Stabil

Harga emas dunia ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (27/8/2025). Berdasarkan data pasar, emas bertahan di level USD 3.397 per ons, naik 0,12% dibanding sesi sebelumnya.

Penguatan ini terjadi di tengah ketidakpastian politik AS dan tarik-ulur independensi Federal Reserve (The Fed) dengan Gedung Putih. Kondisi tersebut membuat emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven).

Analis: Bullish Masih Terbuka

Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai tren emas masih bullish. Secara teknikal, indikator Moving Average menunjukkan potensi kenaikan lanjutan.

“Jika momentum bertahan, harga emas bisa menguji resistance di USD 3.407. Namun bila gagal, support terdekat berada di USD 3.376,” jelas Andy.

Meski demikian, level psikologis USD 3.400 masih menjadi rintangan utama sebelum emas berpeluang menuju puncak pertengahan Juni di sekitar USD 3.452.

Menanti Kebijakan The Fed

Selain faktor teknikal, arah emas sangat dipengaruhi kebijakan moneter AS. Presiden The Fed New York, John Williams, menyebut penurunan suku bunga masih terbuka, bergantung pada data ekonomi terbaru.

Pasar kini menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 September 2025, yang diperkirakan menjadi penentu arah suku bunga jangka pendek.

Data Ekonomi Jadi Penentu

Investor juga mencermati sejumlah rilis data penting, termasuk laporan ketenagakerjaan AS, inflasi PCE Juli, dan CPI Agustus. Prime Market Terminal memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga pada September mencapai 90%.

Bank investasi JP Morgan menilai pelemahan dolar masih menjadi faktor pendukung harga emas. Namun, konsolidasi di kisaran USD 3.390–3.400 akan menjadi ujian apakah emas mampu melanjutkan tren naik.

Sementara itu, komentar Presiden The Fed Richmond, Tomas Barkin, yang menyebut kemungkinan adanya “penyesuaian moderat” menambah ekspektasi pasar bahwa kebijakan suku bunga akan lebih hati-hati ke depan.

Baca juga: Sejarah Latiao di Cina, Komposisi, dan Alasan Penarikannya oleh BPOM