Demonstran Kepung Rumah Netanyahu pada Rabu malam (17/9). Mereka menuding Netanyahu menolak gencatan senjata dan justru memperluas serangan militer di Gaza.
Menurut laporan Al Jazeera, demonstran terdiri dari keluarga warga Israel yang ditawan Hamas serta kelompok masyarakat sipil. Aksi ini bukan yang pertama, karena protes serupa sudah berlangsung selama beberapa malam terakhir.
Kekhawatiran atas Serangan ke Gaza
Gelombang demonstrasi meningkat seiring dengan serangan darat intensif Israel di Kota Gaza. Para pengunjuk rasa menyuarakan kekhawatiran keselamatan kerabat mereka yang masih ditawan dan juga nasib warga sipil Palestina yang menjadi korban.
Militer Israel memperkirakan ada sekitar 2.000–3.000 militan Hamas di pusat Kota Gaza. Serangan darat dilakukan setelah pengeboman besar-besaran yang diklaim bertujuan menghancurkan infrastruktur Hamas.
Namun, laporan terbaru PBB menyebut Israel melakukan tindakan yang masuk kategori “genosida”. Netanyahu dan sejumlah pejabat senior Israel bahkan dituduh menghasut kejahatan tersebut.
Baca juga: Benteng Ferangi, Jejak Sejarah di Ambon yang Jadi Markas Militer
Rute Evakuasi Demonstran Kepung Rumah Netanyahu
Di tengah eskalasi, juru bicara militer Israel Avichay Adraee mengumumkan pembukaan jalur evakuasi sementara melalui Jalan Salah al-Din, yang membentang dari utara hingga selatan Gaza.
- Rute hanya dibuka selama 48 jam sejak Rabu (17/9) siang waktu setempat.
- Warga Palestina diminta menuju zona yang disebut “zona kemanusiaan” di wilayah selatan, termasuk sebagian kawasan Al-Mawasi.
Langkah ini dianggap sebagai upaya mengurangi korban sipil, meskipun serangan darat dan udara Israel masih berlangsung.
Tekanan Politik dan Internasional
Protes di Yerusalem menjadi simbol meningkatnya tekanan terhadap Netanyahu, baik dari dalam negeri maupun dunia internasional.
- Warga Israel mendesak gencatan senjata demi keselamatan sandera.
- Komunitas internasional menyoroti dugaan genosida dan pelanggaran hukum humaniter.
Meski demikian, Netanyahu bersikeras serangan Israel “dibenarkan” dengan alasan Qatar mendanai Hamas dan menjadi penghalang upaya perdamaian.
Baca juga: Mengenal Samgyetang, Sup Ayam Ginseng Favorit di Musim Panas Korea

