SPPG Polri Jadi Contoh Nasional dalam Pengolahan dan Distribusi Makanan BergiziSPPG Polri Jadi Contoh Nasional dalam Pengolahan dan Distribusi Makanan Bergizi

SPPG Polri Jadi Contoh Nasiona;

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Pejaten mendapat apresiasi luas karena menjadi acuan nasional dalam pengolahan dan distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dengan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) dan sertifikat halal dari BPJPH, SPPG Polri dinilai berhasil menjaga mutu dan keamanan pangan bagi masyarakat, terutama anak-anak sekolah.

SPPG Polri Jadi Contoh: Sistem Ketat dan Sertifikasi Lengkap

SPPG Polri Pejaten telah memenuhi standar keamanan pangan nasional dengan sistem sanitasi dan pengolahan modern. Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa Presiden RI memerintahkan agar setiap SPPG memiliki alat rapid test pangan untuk menguji makanan sebelum didistribusikan.

Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, juga mengapresiasi langkah Polri. Menurutnya, hingga kini dapur di bawah pengawasan SPPG Polri tidak pernah mengalami kasus pencemaran karena seluruh prosesnya mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.

Prosedur Produksi Makanan di SPPG

Kegiatan operasional SPPG Polri diawali dari tahap kedatangan personel. Setiap petugas wajib mencuci tangan, mengganti alas kaki, memakai alat pelindung diri (APD), dan memasuki area produksi melalui pintu khusus. Langkah ini menjadi dasar penerapan prinsip higiene dan keselamatan kerja.

Bahan pangan yang datang diperiksa oleh petugas Quality Control (QC) dan ahli gizi Polri. Jika ditemukan bahan yang tidak segar atau tidak memenuhi syarat suhu penyimpanan, bahan tersebut langsung dipisahkan dan dilaporkan. Bahan yang lolos disimpan di gudang pendingin atau ruang kering sesuai kategorinya.

Dalam tahap persiapan, bahan nabati dan hewani diproses di ruangan terpisah untuk mencegah kontaminasi silang. Semua alat masak disterilisasi dan diawasi langsung oleh petugas QC.

Proses Masak dan Pemeriksaan Keamanan

Pengolahan makanan dilakukan dengan suhu minimal 74°C agar matang sempurna dan aman dikonsumsi. Setiap makanan hanya boleh diolah maksimal empat jam sebelum dikonsumsi. Sebelum disajikan, ahli gizi Polri melakukan pemeriksaan organoleptik untuk menilai aroma, warna, rasa, dan tekstur makanan.

Untuk menjamin keamanan, dilakukan rapid test pangan guna mendeteksi zat berbahaya seperti nitrit, sianida, arsen, dan formalin. Selain itu, uji mikrobiologi dan kimia dilakukan untuk memastikan makanan bebas dari bakteri E. coli dan Salmonella.

Dari setiap menu, diambil sampel 100 gram yang disimpan selama 24 jam sebagai arsip keamanan.

Distribusi Aman dan Ramah Lingkungan

Setelah dinyatakan aman, makanan dikemas dalam wadah food grade tertutup rapat dan dilabeli dengan identitas menu. Makanan dikirim menggunakan kendaraan logistik tertutup milik Polri, dan penyerahan dilakukan dengan Berita Acara Serah Terima (BAST) agar setiap penerima mendapat jatah sesuai daftar.

SPPG Polri juga menerapkan sistem pengolahan limbah organik dan cair dengan bio tank modern, sebagai upaya menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas pencemaran.

Evaluasi dan Standar Internasional

Setiap selesai distribusi, tim SPPG melakukan evaluasi harian terhadap cita rasa, kondisi makanan, serta tingkat kepuasan penerima manfaat. Masukan dari siswa dan guru menjadi dasar untuk perbaikan layanan gizi ke depan.

Saat ini, SPPG Polri Pejaten telah mengantongi sertifikasi halal dan higiene sanitasi, serta sedang dalam proses menuju ISO 22000 dan HACCP, dua standar internasional untuk keamanan pangan. Polri berkomitmen memperluas sertifikasi ini ke seluruh satuan SPPG di Indonesia.

Kesimpulan

Melalui penerapan SOP higienis, sertifikasi halal, pengawasan ketat, dan sistem distribusi modern, SPPG Polri membuktikan komitmennya dalam menyediakan makanan bergizi, aman, dan ramah lingkungan. Standar tinggi ini menjadikan SPPG Polri sebagai contoh dapur sehat nasional yang patut ditiru lembaga lainnya.