Angka Depresi Jakarta Lebihi Nasional, NasDem Soroti Biaya HidupAngka Depresi Jakarta Lebihi Nasional, NasDem Soroti Biaya Hidup

Angka Depresi Jakarta Lebihi Nasional, NasDem Soroti Biaya Hidup

Hasil skrining kesehatan jiwa dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan angka depresi di Jakarta mencapai 3 persen dari 365.730 orang dewasa dan lansia yang telah diperiksa. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, menilai kondisi ini dipengaruhi oleh tekanan ekonomi serta tingginya biaya hidup di ibu kota.

Menurut Wibi, beban finansial yang semakin berat dan ketidakstabilan ekonomi rumah tangga menjadi salah satu pemicu warga mengalami gejala depresi. Ia menilai persoalan ekonomi seringkali berimbas langsung pada kesehatan mental masyarakat urban.

Stigma dan Akses Layanan Jadi Tantangan

Selain persoalan ekonomi, Wibi menyoroti masih kuatnya stigma seputar kesehatan mental di masyarakat. Banyak warga menganggap pemeriksaan kesehatan jiwa tidak penting atau bahkan takut mengakses layanan karena khawatir dianggap negatif oleh lingkungan sekitar.

Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya kesehatan mental juga membuat banyak orang tidak menyadari tanda-tanda awal depresi. Kondisi ini, menurut Wibi, membuat deteksi dini dan penanganan menjadi terlambat.

Ia mendorong agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperluas program skrining kesehatan jiwa serta menyediakan lebih banyak layanan konseling gratis. Menurutnya, langkah ini akan membantu menekan stigma sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap bantuan yang mereka butuhkan.

Dorongan Penguatan Program CKG

Ketua Tim Kerja Deteksi Dini dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kementerian Kesehatan, Yunita Arihandayani, juga mengimbau warga Jakarta untuk mengikuti Program CKG. Ia menegaskan bahwa skrining kesehatan jiwa merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan keluarga, khususnya bagi kelompok rentan.

Dari total peserta yang sudah menjalani skrining, sebanyak 10.973 orang atau 3 persen menunjukkan gejala depresi. Angka ini mencerminkan bahwa depresi adalah isu serius yang membutuhkan perhatian bersama, tidak hanya dari pemerintah tetapi juga masyarakat.

Di Atas Rata-rata Nasional

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun di Jakarta berada di angka 1,5 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di 1,4 persen.

Yunita mengingatkan bahwa depresi bisa menyerang siapa saja, termasuk ibu rumah tangga, pekerja, dan remaja. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku, tekanan psikologis, maupun gejala lain yang mengarah pada gangguan kesehatan mental.

Penutup

Lonjakan angka depresi di Jakarta menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Tekanan ekonomi, beban hidup, serta minimnya kesadaran terhadap kesehatan mental membuat banyak warga tidak menyadari tanda-tanda depresi yang mereka alami. Dengan memperkuat layanan skrining, konseling, dan edukasi publik, upaya pencegahan dapat dilakukan lebih efektif untuk menjaga kesehatan mental warga ibu kota.