Puan Maharani: Kasus Alvaro Tanda Darurat Kekerasan AnakPuan Maharani: Kasus Alvaro Tanda Darurat Kekerasan Anak

Puan Maharani: Kasus Alvaro Tanda Darurat Kekerasan Anak

Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyatakan Indonesia tengah menghadapi situasi darurat kekerasan anak setelah kasus Alvaro Kiano mencuat kembali. Bocah berusia delapan tahun itu hilang sejak Maret 2025 dan diduga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Puan menilai kasus ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak karena berkaitan langsung dengan keselamatan anak.

“Ini sudah merupakan situasi darurat yang harus ditangani dengan saksama. Masalah seperti ini bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga atau sekolah, tetapi juga tanggung jawab negara,” ujar Puan di Gedung DPR RI, Selasa (25/11).

DPR Minta Penanganan Komprehensif

Puan mengatakan pihaknya telah meminta seluruh pemangku kepentingan, mulai dari aparat penegak hukum hingga lembaga perlindungan anak, untuk menindaklanjuti kasus Alvaro secara serius. Ia menilai penanganan harus dilakukan secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami meminta semua stakeholder yang terkait untuk menindaklanjuti persoalan ini dengan serius,” tegasnya.

DPR, melalui komisi terkait, juga akan memanggil para pemangku kebijakan guna mengevaluasi mekanisme perlindungan anak yang berjalan selama ini. Evaluasi tersebut diharapkan menghasilkan langkah-langkah yang lebih efektif dalam mencegah kekerasan terhadap anak.

“Kami ingin penanganan ini komprehensif. Ke depan harus ada langkah yang lebih efektif agar hal seperti ini tidak terjadi lagi,” tambah Puan.

Perkembangan Terbaru Kasus Alvaro

Kasus Alvaro kembali menjadi perhatian publik setelah polisi menemukan kerangka manusia yang diduga kuat adalah jasadnya. Temuan ini berada dalam proses identifikasi melalui tes DNA.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly menyampaikan bahwa pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. “Kami menemukan kerangka manusia yang diduga merupakan Alvaro,” ujarnya.

Dalam kasus ini, polisi sebelumnya menetapkan ayah tiri Alvaro, Alex Iskandar, sebagai tersangka. Namun Alex meninggal dunia saat berada dalam tahanan. Ia diduga bunuh diri sebelum proses pemeriksaan selesai.

Penutup

Seruan Puan Maharani menunjukkan bahwa kasus Alvaro bukan persoalan individual, tetapi potret darurat nasional terkait perlindungan anak. Dengan memperkuat koordinasi, evaluasi kebijakan, dan penindakan tegas, pemerintah diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang aman bagi seluruh anak di Indonesia.