Taiwan Siapkan Anggaran Pertahanan Rp 664 T Lawan ChinaTaiwan Siapkan Anggaran Pertahanan Rp 664 T Lawan China

Taiwan Siapkan Anggaran Pertahanan Rp 664 T Lawan China

Taiwan kembali menegaskan sikapnya terhadap tekanan Beijing. Pemerintah mengumumkan rencana tambahan anggaran pertahanan Taiwan sebesar NT$ 1,25 triliun atau sekitar Rp 664 triliun. Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Presiden Lai Ching-te dalam konferensi pers di Taipei, Rabu (26/11).

China dalam lima tahun terakhir terus meningkatkan tekanan militer dan diplomatik. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya, sementara Taipei menolak klaim tersebut. Situasi ini membuat Taiwan mempercepat penguatan pertahanan nasional.

Target 5% dari PDB pada 2030

Taiwan sebelumnya didorong Amerika Serikat untuk meningkatkan kapasitas militernya. Lai sudah pernah menyampaikan rencana untuk menaikkan porsi anggaran pertahanan hingga 5 persen dari PDB pada tahun 2030.

Saat mengumumkan paket dana tambahan ini, Lai menekankan bahwa kompromi bukan pilihan. Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan agresi tidak akan mereda hanya dengan negosiasi tanpa kekuatan pertahanan yang memadai.

“Tidak ada ruang untuk kompromi soal keamanan nasional,” tegasnya. “Kedaulatan, kebebasan, dan demokrasi adalah fondasi bangsa.”

Taiwan Siapkan Anggaran untuk Senjata Baru dan Sistem Pertahanan Udara

Lai menjelaskan bahwa dana tambahan akan dialokasikan untuk membeli senjata baru dari Amerika Serikat serta memperkuat strategi pertahanan asimetris Taiwan. Ia juga menyoroti proyek T-Dome, sistem pertahanan udara berlapis yang disebut menjadi salah satu pondasi keamanan jangka panjang Taiwan.

Menurut Lai, proyek tersebut akan membawa Taiwan lebih dekat pada kondisi ideal: negara yang aman, memiliki pertahanan mutakhir, dan mampu melindungi wilayahnya tanpa bergantung penuh pada kekuatan luar.

Pengumuman Menguat di Tengah Ketegangan Regional

Kebijakan ini hadir saat hubungan China–Jepang turut memanas. PM Jepang Sanae Takaichi sempat menyatakan kemungkinan intervensi militer jika serangan China terhadap Taiwan mengancam keamanan Jepang. Situasi ini meningkatkan kewaspadaan kawasan Asia Timur.

Selain itu, AS baru saja menyetujui penjualan komponen militer senilai US$ 300 juta kepada Taiwan—penjualan militer pertama sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS. Dukungan ini memperkuat kerja sama pertahanan kedua pihak.

Penutup

Rencana anggaran pertahanan Taiwan sebesar Rp 664 triliun menunjukkan bahwa Taipei tidak ingin mundur dari ancaman Beijing. Pemerintah ingin memastikan pertahanan udara, militer, dan sistem peringatan nasional berjalan lebih kuat. Taiwan mengirim pesan tegas: mereka siap menjaga kedaulatan dan tidak akan mudah tunduk.