Kisah Warga Terjebak Hutan Saat Banjir-Longsor SumutKisah Warga Terjebak Hutan Saat Banjir-Longsor Sumut

Terjebak di Hutan Saat Bencana Melanda

Kisah warga terjebak di hutan saat banjir dan longsor Sumut terjadi di Lorong 4 Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Lebih dari 50 orang terisolasi selama dua hari dua malam. Mereka bertahan tanpa makanan layak dan perlindungan memadai.

Sementara itu, hujan deras terus mengguyur kawasan perbukitan. Akses keluar tertutup longsor. Sungai meluap dan menyeret kayu gelondongan.

Tanda Alam yang Diabaikan

Sejak pertengahan November, cuaca berubah ekstrem. Hujan turun hampir tanpa jeda. Debit air perlahan naik di sekitar permukiman warga.

Selain itu, kabar longsor besar dari bukit atas mulai menyebar. Karena kondisi makin tidak aman, warga memilih mengungsi ke Gereja BNKP.

Gereja Tak Lagi Aman

Awalnya, gereja menjadi tempat berlindung sementara. Namun, situasi berubah cepat. Tanah di belakang bangunan tiba-tiba longsor dan menumbangkan pohon besar.

Tak lama kemudian, air cokelat menggenangi rumah warga. Melihat bahaya datang dari dua arah, warga panik dan bersiap melarikan diri.

Keputusan Menyelamatkan Diri

Seorang warga berteriak meminta semua orang segera pergi. Ia melarang membawa barang apa pun. Prioritasnya hanya satu, yakni bertahan hidup.

Kemudian, rombongan bergerak menuju dataran lebih tinggi. Noverlinda Waruwu menggendong bayinya sambil berlari di tengah hujan. Meski bayi muntah dan tubuhnya menggigil, ia tetap melangkah.

Dataran Pertama Bukan Solusi

Sesampainya di dataran pertama, warga menyaksikan kampung mereka tertimbun lumpur. Gereja hanya menyisakan atap.

Namun, Arman Zebua menilai lokasi itu berbahaya. Oleh karena itu, ia mengajak keluarga melanjutkan perjalanan. Keputusan ini krusial, sebab dataran pertama kembali longsor beberapa menit kemudian.

Lumpur Menelan Tubuh

Di dataran kedua, jalur yang dilalui sangat licin. Arman berjalan paling depan untuk membuka jalan.

Sayangnya, Yania Tilase terpeleset dan terperosok ke lumpur hingga menyisakan kepala. Dalam kondisi kritis, ia berkata lirih, “Tinggalkan aku, selamatkan adikmu.”

Mendengar itu, Arman memanggil bantuan. Dengan tenaga terakhir, beberapa orang menarik Yania keluar dari lumpur.

Terisolasi dan Kelaparan

Akhirnya, rombongan tiba di dataran ketiga. Area ini sempit dan dikelilingi longsor. Mereka tak bisa bergerak lagi.

Sebagian orang merakit seng sebagai atap darurat. Anak-anak dan lansia berlindung di sana. Sementara itu, orang dewasa bertahan di bawah hujan.

Untuk minum, mereka menadah air hujan. Untuk makan, mereka memanggang nangka muda. Bahkan, sebagian warga mengunyah kayu demi menahan lapar.

Video Terakhir Sebelum Sinyal Hilang

Di titik inilah Arman merekam video permintaan tolong. Video itu sempat terkirim dan viral.

Namun sesaat kemudian, jaringan komunikasi terputus. Banyak orang di luar lokasi tidak mengetahui nasib mereka.

Bertaruh Nyawa Mencari Pertolongan

Keesokan pagi, Arman memutuskan keluar sendirian. Ia menembus lumpur, longsor, dan kayu besar. Di satu titik, tubuhnya tenggelam dalam lumpur.

Meski begitu, ia berhasil keluar. Setelah itu, ia berenang menyeberangi sungai deras. Arus menyeret tubuhnya, tetapi ia selamat.

Jalan Pulang yang Menentukan

Setelah mendapatkan bantuan beras, Arman kembali naik bukit. Ia meyakinkan rombongan untuk turun.

Perjalanan turun berlangsung berjam-jam di tengah hujan. Akhirnya, warga menyeberangi sungai dengan jembatan bambu darurat.

Saat nasi pertama dibagikan, banyak pengungsi menangis. Momen itu menjadi simbol harapan setelah dua malam terjebak.

Harapan Para Penyintas

Kini, para penyintas masih berpindah-pindah tempat. Bantuan makanan mulai terbatas. Banyak yang belum bisa kembali bekerja.

Oleh karena itu, mereka berharap pemerintah menyediakan hunian sementara yang layak. Mereka juga membutuhkan jaminan pemulihan hidup pascabencana.