Tahanan Demo Tewas di Rutan Medaeng, Luka Lebam TerungkapTahanan Demo Tewas di Rutan Medaeng, Luka Lebam Terungkap

Tahanan Demo Tewas di Rutan Medaeng, Keluarga Temukan Luka Lebam Mencurigakan

Kasus tahanan demo tewas di Rutan Medaeng memicu keprihatinan serius dari keluarga dan pegiat hak asasi manusia. Kematian Alfarisi bin Rikosen (21), seorang tahanan kasus demonstrasi, menyisakan tanda tanya besar setelah keluarga menemukan sejumlah luka lebam pada tubuh almarhum.

Temuan tersebut terungkap saat keluarga memandikan jenazah Alfarisi. Mereka melihat perubahan warna mencolok di beberapa bagian tubuh yang dinilai tidak wajar, sehingga memunculkan dugaan adanya kekerasan sebelum korban meninggal dunia.

Luka Lebam Ditemukan Saat Pemandian Jenazah

Perwakilan lembaga pendamping korban menyampaikan bahwa keluarga mendapati kondisi fisik Alfarisi yang mencurigakan. Kedua telinga korban terlihat memerah, sementara bagian dada kanan hingga punggung belakang menunjukkan lebam berwarna merah kebiruan.

Selain itu, keluarga mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan medis yang rinci mengenai penyebab kematian Alfarisi. Kondisi ini membuat duka keluarga bercampur dengan rasa curiga dan ketidakpastian.

Riwayat Penahanan dan Dugaan Kekerasan

Alfarisi diketahui ditangkap dalam rangkaian penindakan aksi demonstrasi pada periode Agustus–September. Setelah penangkapan, ia sempat ditahan di kepolisian sebelum dipindahkan ke Rutan Kelas I Medaeng.

Menurut keterangan keluarga dan sesama tahanan, Alfarisi sempat mengeluhkan perlakuan kasar selama masa penahanan awal. Ia diduga mengalami pemukulan dan tendangan di bagian dada, yang kemudian diikuti keluhan sesak napas, kejang, hingga gangguan bicara.

Kondisi Kesehatan Memburuk

Dalam beberapa bulan terakhir masa penahanan, kondisi kesehatan Alfarisi dilaporkan menurun drastis. Berat badannya disebut menyusut hingga puluhan kilogram. Namun demikian, keluarga menilai almarhum tidak pernah mendapatkan perawatan medis yang memadai.

Bahkan, menurut keterangan yang dihimpun, pertolongan awal justru diberikan oleh sesama tahanan, bukan oleh petugas medis resmi.

Keluarga Mengaku Ditekan

Tak hanya kehilangan anggota keluarga, pihak keluarga juga mengaku mengalami tekanan saat berada di rutan. Mereka diminta menandatangani sejumlah dokumen tanpa penjelasan jelas terkait isi dan konsekuensinya.

Dokumen tersebut disebut berisi pernyataan bahwa keluarga tidak akan menuntut secara hukum atas kematian Alfarisi. Situasi ini semakin memperdalam kekecewaan dan kecurigaan keluarga terhadap proses penanganan kasus.

Bantahan Soal Riwayat Penyakit

Pihak keluarga juga membantah pernyataan yang menyebut Alfarisi memiliki riwayat kejang sejak kecil. Mereka menegaskan tidak pernah menyampaikan informasi tersebut kepada pihak rutan atau aparat mana pun.

Bagi keluarga, klaim tersebut justru dinilai sebagai upaya mengaburkan penyebab kematian yang sesungguhnya.

Desakan Penyelidikan Independen

Atas berbagai kejanggalan tersebut, keluarga bersama pendamping hukum mendesak adanya penyelidikan independen. Mereka berharap penyebab kematian Alfarisi dapat diungkap secara transparan dan objektif.

Penyelidikan ini dinilai penting agar keadilan dapat ditegakkan, sekaligus mencegah peristiwa serupa terulang terhadap tahanan lain di masa mendatang.

Pihak Rutan Beri Klarifikasi

Sementara itu, pihak rutan menyatakan kematian Alfarisi disebabkan oleh gangguan pernapasan. Mereka juga membantah adanya kekerasan selama masa penahanan di rutan dan menyebut proses penanganan telah disampaikan kepada keluarga.

Meski demikian, perbedaan versi antara pihak keluarga dan otoritas rutan membuat publik menanti kejelasan lebih lanjut dari aparat penegak hukum.