Ketua DPRD DKI Jakarta, Khoirudin, mengajak semua pihak untuk duduk bersama membahas polemik RDF Rorotan. Ia menilai persoalan pengoperasian fasilitas pengolahan sampah itu harus diselesaikan melalui solusi bersama, terutama karena warga sekitar masih mengeluhkan dampaknya.
Khoirudin menegaskan masalah ini bukan hanya urusan pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.
RDF Rorotan Dibangun untuk Atasi Sampah Jakarta
Khoirudin menjelaskan RDF Plant Rorotan dibangun dengan dana besar. Pemerintah berharap fasilitas ini dapat membantu mengurangi krisis sampah di Jakarta.
Selain itu, Jakarta setiap hari menghasilkan lebih dari 8 ribu ton sampah. Karena itu, RDF Rorotan menjadi salah satu proyek penting dalam sistem pengelolaan limbah kota.
Namun, muncul keluhan warga terkait bau dan kenyamanan lingkungan.
Ketua DPRD Minta Dialog dengan Warga
Khoirudin menekankan pentingnya komunikasi langsung dengan masyarakat. Ia ingin pemerintah dan warga membicarakan masalah ini secara terbuka.
“Ini masalah kita bersama. Saya berharap kita duduk bareng untuk memikirkan solusi bersama,” ujarnya.
Dengan demikian, DPRD berharap pengoperasian RDF dapat berjalan tanpa menimbulkan keresahan.
DLH Tingkatkan Teknologi Pengendalian Bau
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta merespons keluhan warga dengan meningkatkan sistem pengendalian lingkungan.
Kepala DLH, Asep Kuswanto, mengatakan pihaknya memasang alat tambahan untuk menekan bau dan emisi udara.
Saat ini, RDF Rorotan sudah memiliki empat unit deodorizer. Sebelumnya, fasilitas itu hanya memakai tiga unit.
Selain itu, DLH juga memperkuat perangkat pengendali polusi udara sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan.
DPRD Soroti Perencanaan Proyek Rp1,3 Triliun
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ali Lubis, ikut menyoroti persoalan bau menyengat yang muncul dari RDF Rorotan.
Ia mempertanyakan perencanaan proyek yang menelan anggaran sekitar Rp1,3 triliun. Menurutnya, proyek sebesar itu seharusnya mampu mengantisipasi dampak lingkungan sejak awal.
“Masa anggaran sebegitu besar sampai hari ini masih timbul masalah. Ini menjadi pertanyaan publik,” kata Ali.
Dengan demikian, ia menilai pemerintah perlu membuka evaluasi secara transparan.
Operasional RDF Berjalan Terbatas
DLH menyatakan RDF Rorotan masih beroperasi secara terbatas. Operasional berjalan lima hari dalam seminggu dengan dua shift kerja.
Sementara itu, Sabtu dan Minggu digunakan untuk pembersihan area.
Asep menegaskan RDF tidak langsung beroperasi pada kapasitas penuh 2.500 ton per hari. Pemerintah memulai dari 200 ton per hari dan meningkatkan kapasitas secara bertahap.
Pengangkutan Sampah Kini Pakai Truk Tertutup
DLH juga memperbaiki sistem pengangkutan sampah menuju RDF. Pemerintah kini hanya memakai truk compactor tertutup.
Langkah ini bertujuan mencegah bau dan ceceran air lindi di jalan.
Selain itu, DLH mengoperasikan pos pantau untuk memeriksa kendaraan agar bak truk tetap rapat dan tidak bocor.
Harapan Penyelesaian Polemik RDF Rorotan
Polemik RDF Rorotan menunjukkan pentingnya keseimbangan antara teknologi pengolahan sampah dan kenyamanan warga.
Khoirudin berharap semua pihak dapat mencari solusi terbaik. Dengan demikian, RDF Rorotan bisa berfungsi optimal tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.

